Dampak COVID-19 Terhadap Perusahaan Pembiayaan

Kekhawatiran Lembaga Pembiayaan Terhadap Pengaruh Covid-19

Sejak COVID-19 dikonfirmasi oleh World Health Organization (WHO) sebagai sebuah pandemi, semua negara dapat merasakan secara langsung dampak yang disebabkan oleh penyakit berbahaya ini. Indonesia juga terpengaruh dengan keberadaan COVID-19. Kecemasan karena angka korban yang terus meningkat, kebijakan pemerintah yang menghimbau rakyat untuk tetap di rumah, hingga harga bahan baku yang terus meningkat akibat melemahnya nilai Rupiah.

Selain dampak yang dirasakan oleh masyarakat, COVID-19 juga mempengaruhi sektor bagian bisnis dan industri tanah air. Karena himbauan work from home dari pemerintah, masyarakat disarankan untuk tidak meninggalkan rumah kecuali untuk hal yang sangat penting dan darurat, seperti berbelanja bahan makanan. Kebijakan ini tentunya akan menghambat siklus bisnis dan industri. Para pedagang retail minim konsumen, buruh tidak bisa bekerja, dan beberapa usaha terpaksa tutup untuk sementara.

Direktur Asosiasi PT Fitch Ratings Indonesia, Roy Purnomo juga mengatakan bahwa langkah pencegahan penyebaran COVID-19 ini dapat merugikan konsumsi domestik. Lembaga pemeringkat kredit tersebut juga menjelaskan bahwa dampak COVID-19 akan sangat dirasakan oleh perusahaan pembiayaan. Dampak COVID-19 pada perusahaan pembiayaan dapat dirasakan oleh konsumen/debitur, karyawan hingga ke operasional perusahaan itu sendiri.

Fitch mengatakan bahwa terdapat hambatan kualitas aset perusahaan pembiayaan bahkan sebelum virus Corona mulai menyebar. Hambatan ini akan semakin parah jika pandemi ini terus berlangsung.

Hambatan Perusahaan Pembiayaan saat Pandemi COVID-19

  • Menurunnya Permintaan Konsumen dan Minat Pembelian Kendaraan
    Salah satu tantangan yang akan dihadapi oleh perusahaan pembiayaan adalah permintaan konsumen yang melemah sehingga dapat mempengaruhi minat pembelian kendaraan. Hal ini sangat mempengaruhi perusahaan karena pembelian kendaraan merupakan salah satu sumber pembiayaan utama bagi perusahaan pembiayaan. Jumlahnya mencapai 74% dari piutang industri pembiayaan pada akhir 2019.
  • Menurunnya Kapasitas Pembayaran Debitur
    Menurunnya kapasitas pembayaran dari debitur yang terpengaruh oleh COVID-19 juga akan merugikan perusahaan pembiayaan. Untuk saat ini masalah tersebut dapat diatasi dengan kebijakan relaksasi kredit dari Presiden Jokowi. Kebijakan ini juga didukung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Peraturan OJK (POJK) Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Countercyclical.
  • Beban Tambahan Bagi Operasional Perusahaan
    Kebijakan baru OJK membuat beban masyarakat lebih ringan, namun juga menambahkan beban untuk bagian operasional perusahaan pembiayaan, terutama pada bagian penagihan kredit yang pada umumnya masih dilakukan secara manual. Karena rekonstruksi juga berlaku untuk piutang bermasalah, maka perusahaan mengandalkan kejujuran dan kesadaran diri debitur dikarenakan adanya larangan bagi debt collector untuk melakukan penarikan unit.
  • Tertundanya Proses Rekrutmen
    Pandemi COVID-19 juga mempengaruhi proses rekrutmen pada perusahaan pembiayaan karena perintah work from home atau bekerja dari rumah membuat proses rekrutmen karyawan tidak bisa berjalan dengan leluasa. Proses wawancara tidak bisa dilakukan secara tatap muka, dan kegiatan training juga sulit untuk dilakukan. Selain itu, adanya kebijakan relaksasi kredit dan menurunnya permintaan konsumen membuat proses rekrutmen bukan lagi prioritas utama di berbagai perusahaan.

Dampak COVID-19 pada perusahaan pembiayaan ini tentu harus diminalisir demi menjaga kesehatan perusahaan. Namun, melihat begitu luas dan besarnya dampak COVID-19 pada Republik Indonesia, masyarakat hanya bisa menunggu kebijakan selanjutnya dari pemerintah. Masa pemulihan dari pandemi Corona sulit diprediksi karena ketidakpastian akan tingkat keparahan dan penyebaran virus tersebut, sehingga stabilitas ekonomi Indonesia juga terancam. Lalu dengan adanya ancaman PHK, nilai rupiah yang semakin lemah dan kerugian besar bagi pengusaha, adakah solusi yang bisa mencegah ekonomi Indonesia terus melemah? Apakah ekonomi Indonesia dapat bertahan hingga masa pemulihan COVID-19? Apa kata para ahli sebagai solusi terbaik untuk memulihkan ekonomi Indonesia?

(Sumber: WHO, CNBC Indonesia, Kompas, Bisnis.com)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *